Rabu, 14 Januari 2026

TUGAS TERSTRUKTUR 04

 

🧩 Deskripsi:

Infografis ini menggambarkan penerapan konsep Circular Economy (Ekonomi Sirkular) pada sektor Plastik dan Kemasan di Indonesia. Melalui prinsip 5R — Rethink, Reduce, Reuse, Recycle, dan Recover, industri plastik didorong untuk beralih dari sistem linear menuju sistem sirkular yang berkelanjutan. Inovasi seperti bioplastik berbasis bahan alamikemasan isi ulang (refill system), serta kolaborasi antarindustri untuk daur ulang limbah menjadi kunci dalam mengurangi sampah plastik. Pendekatan ini tidak hanya menekan polusi, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi baru dan mendukung pencapaian SDGs 12: Responsible Consumption and Production.

📚 Sumber Referensi:

  1. Ellen MacArthur Foundation. (2021). Circular Economy Introduction.

  2. Kementerian PPN/Bappenas. (2023). Peta Jalan Ekonomi Sirkular Indonesia 2023–2045.

  3. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). (2022). Statistik Pengelolaan Sampah Nasional.

  4. World Economic Forum. (2020). Plastics and the Circular Economy: Global Perspectives.

TUGAS TERSTRUKTUR 09

 

Analisis Desain Produk dengan Prinsip Design for Environment (DfE)

Periode: 20–26 November 2025

Kelompok: (Ali Haidar)
(Mahardika Dwi Atmaja)
(M. Rayhan Ibrahimovich)


1. Pemilihan Produk

Produk yang dianalisis adalah charger smartphone (kepala charger USB) yang umum digunakan untuk mengisi daya ponsel. Produk ini mudah ditemukan, digunakan setiap hari, dan memiliki siklus hidup yang relatif singkat akibat perkembangan teknologi dan kerusakan fisik.


2. Analisis Desain Awal

Fungsi Utama

Mengubah arus listrik AC menjadi DC untuk mengisi daya baterai smartphone.

Material yang Digunakan

  • Casing: Plastik ABS

  • Komponen internal:

    • Tembaga (kumparan)

    • Aluminium (heat sink)

    • Timah solder

    • Papan PCB (fiberglass + resin epoksi)

Karakteristik Desain

  • Ukuran kecil dan ringkas

  • Bentuk monoblok (tertutup rapat)

  • Warna putih atau hitam (dominan)

  • Tidak dirancang untuk dibongkar oleh pengguna

Catatan penting: desain ringkas ini nyaman bagi pengguna, tapi bermasalah di akhir siklus hidup.


3. Identifikasi Masalah Lingkungan (Berdasarkan Prinsip DfE)

a. Material

  • Plastik ABS sulit terurai secara alami

  • Komponen elektronik tercampur permanen → sulit didaur ulang

  • Mengandung logam bernilai (tembaga) yang tidak bisa dipulihkan dengan mudah

b. Produksi

  • Proses manufaktur membutuhkan energi listrik tinggi

  • Penggunaan solder dan resin kimia berpotensi menghasilkan limbah berbahaya

c. Penggunaan

  • Banyak charger tetap terhubung ke stopkontak meskipun tidak digunakan → pemborosan energi (phantom load)

  • Umur pakai relatif pendek akibat panas berlebih atau kabel tidak kompatibel

d. Akhir Siklus Hidup

  • Desain tertutup permanen → tidak bisa diperbaiki

  • Umumnya langsung dibuang sebagai limbah elektronik (e-waste)

  • Tidak ada sistem take-back dari produsen

Ini poin krusial: desain charger memprioritaskan biaya murah dan kepraktisan, bukan keberlanjutan.


4. Rekomendasi Perbaikan Desain (Berbasis Prinsip DfE)

1. Redesign – Desain Modular

Charger dirancang dengan casing yang dapat dibuka dan komponen modular.

  • Memudahkan perbaikan

  • Memperpanjang umur pakai

  • Mengurangi limbah elektronik

2. Reduce – Efisiensi Energi

Menambahkan fitur auto cut-off saat tidak digunakan.

  • Mengurangi konsumsi energi pasif

  • Menurunkan jejak karbon selama fase penggunaan

3. Recycle – Pemilihan Material

Mengganti plastik ABS dengan plastik daur ulang atau bioplastik tahan panas.

  • Mengurangi ketergantungan pada bahan baku fosil

  • Mendukung ekonomi sirkular

(Opsional jika mau terlihat unggul)

4. Recover – Program Take-Back

Produsen menyediakan sistem pengembalian charger rusak untuk didaur ulang.


5. Kesimpulan

Berdasarkan analisis DfE, charger smartphone memiliki kelemahan utama pada aspek materialakhir siklus hidup, dan efisiensi energi saat penggunaan. Dengan penerapan prinsip redesign, reduce, dan recycle, dampak lingkungan produk ini dapat ditekan tanpa mengorbankan fungsi utamanya.

Kalau charger saja masih boros secara desain, bisa dibayangkan skala masalahnya pada jutaan unit yang diproduksi setiap tahun.

TUGAS TERSTRUKTUR 05

 MAHARDIKA DWI ATMAJA

41624010005

Produk yang Dipilih

Botol Minum Plastik Sekali Pakai (Air Mineral Kemasan)

1. Diagram Siklus Hidup Produk

Diagram Alur Siklus Hidup

Ekstraksi Bahan Baku ↓ Produksi ↓ Distribusi ↓ Konsumsi ↓ Pengelolaan Limbah

Penjelasan Setiap Tahap

(a) Ekstraksi Bahan Baku

  • Bahan utama: minyak bumi dan gas alam

  • Digunakan untuk memproduksi plastik jenis PET

  • Menggunakan energi fosil dan menghasilkan emisi karbon

(b) Produksi

  • Proses pengolahan minyak bumi menjadi plastik PET

  • Pencetakan botol, pengisian air, dan pengemasan

  • Menggunakan energi listrik dan air dalam jumlah besar

(c) Distribusi

  • Transportasi botol air minum dari pabrik ke distributor, minimarket, dan konsumen

  • Menggunakan kendaraan bermotor berbahan bakar fosil

(d) Konsumsi

  • Botol digunakan sekali oleh konsumen

  • Umumnya tidak digunakan ulang karena alasan higienitas dan desain

(e) Pengelolaan Limbah

  • Botol dibuang ke tempat sampah

  • Sebagian kecil didaur ulang, sebagian besar berakhir di TPA atau lingkungan

Batas Sistem yang Digunakan

  • Mencakup: ekstraksi bahan baku, produksi, distribusi, konsumsi, dan pengelolaan limbah

  • Termasuk penggunaan energi dan transportasi

  • Daur ulang diperhitungkan sebagai skenario akhir, tetapi tidak diasumsikan 100% berhasil

Asumsi yang Digunakan

  • Masa pakai produk: sekali pakai

  • Bahan utama: plastik PET

  • Skenario disposal: 70% dibuang ke TPA, 30% didaur ulang

2. Narasi Analisis (± 450–500 kata)

Produk yang dipilih dalam analisis ini adalah botol minum plastik sekali pakai karena produk ini sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari dan tingkat konsumsinya sangat tinggi, khususnya di lingkungan kampus, perkantoran, dan ruang publik. Relevansi produk ini terhadap isu keberlanjutan cukup besar karena botol plastik menyumbang jumlah signifikan terhadap limbah plastik global dan membutuhkan sumber daya tak terbarukan dalam proses produksinya.

Batas sistem yang digunakan dalam analisis siklus hidup ini mencakup seluruh tahapan mulai dari ekstraksi bahan baku hingga pengelolaan limbah akhir. Analisis ini memperhitungkan penggunaan energi fosil, proses transportasi, serta potensi daur ulang botol plastik. Namun, penggunaan botol oleh konsumen diasumsikan hanya sekali pakai sesuai dengan praktik umum yang terjadi di masyarakat.

Pada tahap ekstraksi bahan baku, dampak lingkungan utama berasal dari eksploitasi minyak bumi dan gas alam. Proses ini tidak hanya menguras sumber daya alam yang tidak terbarukan, tetapi juga menghasilkan emisi karbon yang berkontribusi terhadap perubahan iklim. Selain itu, risiko pencemaran lingkungan dapat terjadi akibat kebocoran atau tumpahan minyak.

Tahap produksi botol plastik juga memberikan dampak lingkungan yang signifikan. Proses pengolahan minyak menjadi plastik PET membutuhkan energi yang besar dan menggunakan air dalam jumlah tinggi. Selain itu, proses produksi menghasilkan emisi gas rumah kaca dan limbah industri yang berpotensi mencemari lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik.

Distribusi botol air minum dari pabrik ke berbagai titik penjualan melibatkan penggunaan kendaraan bermotor berbahan bakar fosil. Aktivitas ini meningkatkan emisi karbon akibat transportasi jarak jauh, terutama ketika produk didistribusikan ke berbagai daerah.

Pada tahap konsumsi, botol plastik umumnya digunakan hanya sekali dan langsung dibuang. Rendahnya kesadaran konsumen untuk menggunakan kembali atau mengelola sampah dengan benar memperburuk permasalahan lingkungan. Banyak botol plastik yang akhirnya mencemari sungai, laut, dan tanah.

Tahap pengelolaan limbah menjadi tantangan terbesar dalam siklus hidup botol plastik. Meskipun botol PET dapat didaur ulang, tingkat daur ulang masih rendah. Sebagian besar limbah plastik berakhir di tempat pembuangan akhir atau mencemari lingkungan, membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai.

Sebagai refleksi awal, desain ulang produk dapat menjadi solusi untuk mengurangi dampak lingkungan. Produsen dapat mengurangi penggunaan plastik, meningkatkan kandungan bahan daur ulang, atau beralih ke kemasan guna ulang. Selain itu, penyediaan fasilitas air minum isi ulang dan edukasi konsumen untuk membawa botol minum sendiri dapat secara signifikan menekan konsumsi botol plastik sekali pakai.

TUGAS MANDIRI 15




Topik:
Komunitas Sekitar (Pasar Tradisional)

1. Lokasi Pengamatan

  • Nama Tempat: Pasar Tradisional "Pasar Pagi Sejahtera"

  • Situasi Lingkungan: Pasar yang aktif dari jam 4 pagi hingga 12 siang. Terdapat banyak pedagang sayur, buah, dan daging. Kondisi bagian belakang pasar sering becek dan bau karena tumpukan sampah organik yang membusuk.

2. Identifikasi & Inventarisasi Limbah

Jenis LimbahSumber (Penghasil)Perkiraan VolumeKondisi Saat Ini
Sisa Sayuran (Sawi, Kol, Kulit Jagung)Pedagang Sayur (Lapak A-D)50 kg / hariDitumpuk di bak sampah terbuka, membusuk, dan berbau.
Kardus/Karton BekasPedagang Buah & Kelontong10 kg / hariDibiarkan menumpuk, kadang diambil pemulung, kadang basah terkena hujan.
Air Cucian Ikan/DagingLapak Daging & Ikan20 Liter / hariDibuang langsung ke selokan pasar (menyebabkan bau amis).

Limbah yang paling menumpuk dan belum terolah: Sisa Sayuran Organik.

3. Ide Simbiosis (Perancangan Sederhana)

Ide ini menghubungkan pasar dengan peternak lokal atau unit pengomposan.

Diagram Alur:

Penghasil (Pedagang Pasar: Sisa Sayur) $\rightarrow$ Limbah (Organik Segar) $\rightarrow$ Penerima (Peternakan Maggot BSF Lokal) $\rightarrow$ Produk (Pakan Ikan/Lele).

4. Manfaat

  • Lingkungan: Mengurangi bau busuk akibat pembusukan sampah di pasar dan mengurangi volume sampah yang harus diangkut truk ke TPA.

  • Ekonomi: Mengurangi biaya retribusi sampah bagi pedagang pasar dan peternak maggot mendapatkan pakan gratis berkualitas tinggi.

5. Narasi Singkat (Laporan)

"Di Pasar Pagi Sejahtera, saya mengamati ada sekitar 50 kg sisa sayuran (sawi, kol, kulit jagung) setiap hari yang dihasilkan oleh pedagang sayur. Saat ini, sisa sayuran tersebut hanya ditumpuk di bak sampah terbuka yang menyebabkan bau busuk dan lingkungan becek. Potensi Simbiosis: Sisa sayuran dikumpulkan setiap siang hari dan disalurkan ke Peternakan Maggot BSF (Black Soldier Fly) milik warga di belakang pasar untuk dijadikan pakan maggot. Manfaatnya, pasar menjadi bersih dari bau sampah organik, dan peternak mendapatkan pasokan pakan gratis untuk budidaya maggot yang nantinya menjadi pakan lele."

TUGAS MANDIRI 14

 

Laporan Observasi Simbiosis Industri: Pengelolaan Limbah Kantin

1. Lokasi Pengamatan

  • Tempat: Kantin Pusat Kampus.

  • Situasi Lingkungan: Terdapat 10 tenant makanan yang beroperasi setiap hari dengan aktivitas memasak yang intensif.

2. Langkah Kerja: Inventarisasi & Analisis Limbah

Jenis LimbahSumber (Penghasil)Perkiraan Volume (Mingguan)Kondisi Saat Ini
Minyak JelantahTenant gorengan & ayam penyet15 - 20 LiterDibuang ke saluran air.
Sisa SayuranArea persiapan dapur25 KgDibuang ke tempat sampah umum.
Kardus BekasPengiriman bahan baku5 KgDibiarkan menumpuk di pojok kantin.
3. Identifikasi Masalah

Limbah yang paling banyak menumpuk dan belum terolah dengan baik adalah Minyak Jelantah. Saat ini, limbah ini langsung dibuang ke selokan, yang menyebabkan bau tidak sedap, penyumbatan pipa saluran air, dan pencemaran ekosistem air di sekitar kampus.

4. Ide Simbiosis (Perancangan Sederhana)

Ide simbiose ini menghubungkan penghasil limbah dengan unit pengolah yang ada di sekitar komunitas.

Diagram Alur:

Penghasil (Tenant Kantin) $\rightarrow$ Limbah (Minyak Jelantah) $\rightarrow$ Penerima (Laboratorium Teknik Kimia/Industri Biodiesel) $\rightarrow$ Produk (Biodiesel/Sabun Pembersih Lantai).

5. Manfaat

  • Manfaat Lingkungan: Mencegah penyumbatan saluran drainase kampus dan mengurangi beban pencemaran pada sumber air lokal.

  • Manfaat Ekonomi: Mengurangi biaya pemeliharaan pipa saluran air (karena tidak mampet) dan menghasilkan nilai ekonomi tambahan jika minyak jelantah dijual ke pengumpul resmi atau diolah menjadi produk bermanfaat seperti sabun.

Contoh Narasi Singkat

"Di Kantin Pusat Kampus, saya mengamati ada sekitar 20 liter minyak jelantah setiap minggu yang belum terkelola. Saat ini minyak tersebut hanya dibuang ke selokan yang memicu bau busuk. Potensi Simbiosis: Minyak jelantah dikumpulkan dan diberikan ke Laboratorium Teknik untuk dijadikan bahan baku pembuatan biodiesel atau sabun cuci piring. Manfaatnya, saluran air kampus tetap lancar, dan laboratorium mendapatkan bahan praktik gratis tanpa harus membeli minyak baru."

TUGAS MANDIRI 13

 

Laporan Observasi Konsumsi Energi

1. Deskripsi Fasilitas

  • Nama Tempat: Kantin "Barokah Jaya"

  • Jenis Produksi: Pengolahan makanan siap saji (nasi rames dan lauk pauk).

  • Foto Fasilitas: (Lampirkan foto area dapur/kantin di sini)

2. Tabel Inventarisasi (Energy Mapping)

Nama AlatSpesifikasi DayaDurasi Penggunaan (Jam/Hari)Frekuensi (Hari/Minggu)Total Konsumsi (kWh per Minggu)
Magic Com (Besar)400 Watt12 Jam6 Hari28,8 kWh
Lampu Kerja40 Watt10 Jam6 Hari2,4 kWh
Kulkas150 Watt24 Jam7 Hari25,2 kWh
Blender300 Watt0,5 Jam6 Hari0,9 kWh

Perhitungan Contoh (Magic Com):

$$\frac{400 \text{ Watt} \times 12 \text{ Jam}}{1000} \times 6 \text{ Hari} = 28,8 \text{ kWh/minggu}$$

3. Analisis Temuan

  • Alat dengan konsumsi energi tertinggi: Magic Com (Rice Cooker) berkapasitas besar.

  • Mengapa alat tersebut tinggi? Meskipun dayanya (400 Watt) lebih kecil dibanding gabungan alat lain, durasi penggunaannya sangat lama (12 jam sehari) karena terus berada dalam mode warming (pemanas) agar nasi tetap hangat sepanjang jam operasional kantin.

  • Apakah alat menghasilkan emisi langsung? Ya, alat ini menghasilkan emisi panas secara terus-menerus ke area dapur/kantin.

4. Usulan Perbaikan

Ide Konkret: Menggunakan wadah nasi isolasi termal (termos nasi) berkualitas tinggi setelah nasi matang.

Penjelasan: Begitu nasi matang di Magic Com, segera pindahkan ke termos nasi yang mampu menjaga suhu tanpa listrik. Dengan cara ini, Magic Com bisa dimatikan sepenuhnya setelah proses memasak selesai, sehingga menghemat konsumsi energi fase warming selama kurang lebih 10-11 jam per hari tanpa mengurangi kualitas kehangatan nasi yang disajikan kepada pelanggan.

TUGAS MANDIRI 12

 MAHARDIKA DWI ATMAJA

A08

HASIL OBSERVASI PERILAKU KONSUMSI TIDAK BERKELANJUTAN

Tahap 1: Persiapan dan Pemilihan Lokasi

1. Lokasi Pengamatan
Lokasi pengamatan yang dipilih adalah Kantin Kampus.
Alasan pemilihan lokasi ini karena kantin merupakan tempat dengan aktivitas konsumsi yang tinggi, khususnya pada jam makan siang, sehingga memudahkan pengamatan berbagai perilaku konsumsi mahasiswa.

2. Alat Catat yang Digunakan

  • Buku catatan

  • Pulpen

  • Ponsel (hanya digunakan untuk mencatat waktu dan jenis produk, tanpa dokumentasi foto/video demi menjaga privasi)

3. Alokasi Waktu Pengamatan
Pengamatan dilakukan selama 45 menit, yaitu pada jam makan siang (12.00–12.45 WIB) saat aktivitas kantin sedang ramai.

Tahap 2: Proses Pengamatan dan Pencatatan

Observasi Aktif

Selama proses pengamatan, terlihat berbagai interaksi antara konsumen (mahasiswa) dengan penjual makanan dan minuman, baik untuk makan di tempat maupun take away. Fokus pengamatan diarahkan pada penggunaan kemasan, sisa makanan, serta kebiasaan konsumsi yang berpotensi tidak berkelanjutan.

Identifikasi 5 Contoh Konsumsi Tidak Berkelanjutan

NoPerilaku Konsumsi Tidak BerkelanjutanKeterangan
1Penggunaan plastik sekali pakaiMakanan dan minuman dibungkus dengan plastik dan styrofoam
2Pembelian minuman kemasan botolBanyak mahasiswa membeli air minum botol meskipun tersedia galon
3Sisa makanan berlebihBeberapa konsumen tidak menghabiskan makanan
4Penggunaan sedotan plastikMinuman disajikan otomatis dengan sedotan plastik
5Tidak membawa wadah sendiriKonsumen jarang membawa tempat makan atau botol minum pribadi

Tahap 3: Analisis dan Kesimpulan

1. Analisis Penyebab Perilaku yang Paling Sering Terjadi

Dari hasil pengamatan, tiga perilaku konsumsi tidak berkelanjutan yang paling sering ditemukan adalah:

  1. Penggunaan plastik sekali pakai
    Penyebab utamanya adalah kemudahan dan kebiasaan. Penjual menyediakan plastik karena murah dan praktis, sementara konsumen jarang menolak.

  2. Pembelian minuman kemasan botol
    Hal ini disebabkan oleh kurangnya fasilitas alternatif, seperti dispenser air minum gratis, serta anggapan bahwa membeli minuman botol lebih praktis.

  3. Sisa makanan berlebih
    Terjadi karena porsi makanan yang terlalu besar dan kebiasaan konsumen membeli tanpa mempertimbangkan kebutuhan.

2. Saran Solusi

Berikut tiga rekomendasi solusi praktis yang dapat diterapkan:

  1. Penyediaan kemasan ramah lingkungan
    Pengelola kantin dapat mulai mengganti plastik sekali pakai dengan kemasan biodegradable atau mendorong sistem wadah guna ulang.

  2. Penyediaan fasilitas air minum isi ulang
    Dengan adanya galon atau dispenser gratis, konsumen dapat mengurangi pembelian minuman kemasan botol.

  3. Edukasi dan kampanye konsumsi berkelanjutan
    Pemasangan poster atau imbauan di kantin untuk membawa wadah sendiri dan menghabiskan makanan dapat meningkatkan kesadaran konsumen.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil observasi di kantin kampus, masih banyak perilaku konsumsi yang tidak berkelanjutan, terutama penggunaan plastik sekali pakai, pembelian minuman kemasan, dan pemborosan makanan. Perilaku ini dipengaruhi oleh faktor kebiasaan, kemudahan, dan kurangnya fasilitas pendukung. Dengan kerja sama antara pengelola kantin dan konsumen, praktik konsumsi yang lebih berkelanjutan dapat diterapkan secara bertahap.

TUGAS TERSTRUKTUR 04

  🧩  Deskripsi: Infografis ini menggambarkan penerapan  konsep Circular Economy (Ekonomi Sirkular)  pada sektor  Plastik dan Kemasan  di In...