MAHARDIKA DWI ATMAJA
41624010005
Produk yang Dipilih
Botol Minum Plastik Sekali Pakai (Air Mineral Kemasan)
1. Diagram Siklus Hidup Produk
Diagram Alur Siklus Hidup
Penjelasan Setiap Tahap
(a) Ekstraksi Bahan Baku
-
Bahan utama: minyak bumi dan gas alam
-
Digunakan untuk memproduksi plastik jenis PET
-
Menggunakan energi fosil dan menghasilkan emisi karbon
(b) Produksi
-
Proses pengolahan minyak bumi menjadi plastik PET
-
Pencetakan botol, pengisian air, dan pengemasan
-
Menggunakan energi listrik dan air dalam jumlah besar
(c) Distribusi
-
Transportasi botol air minum dari pabrik ke distributor, minimarket, dan konsumen
-
Menggunakan kendaraan bermotor berbahan bakar fosil
(d) Konsumsi
(e) Pengelolaan Limbah
-
Botol dibuang ke tempat sampah
-
Sebagian kecil didaur ulang, sebagian besar berakhir di TPA atau lingkungan
Batas Sistem yang Digunakan
-
Mencakup: ekstraksi bahan baku, produksi, distribusi, konsumsi, dan pengelolaan limbah
-
Termasuk penggunaan energi dan transportasi
-
Daur ulang diperhitungkan sebagai skenario akhir, tetapi tidak diasumsikan 100% berhasil
Asumsi yang Digunakan
2. Narasi Analisis (± 450–500 kata)
Produk yang dipilih dalam analisis ini adalah botol minum plastik sekali pakai karena produk ini sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari dan tingkat konsumsinya sangat tinggi, khususnya di lingkungan kampus, perkantoran, dan ruang publik. Relevansi produk ini terhadap isu keberlanjutan cukup besar karena botol plastik menyumbang jumlah signifikan terhadap limbah plastik global dan membutuhkan sumber daya tak terbarukan dalam proses produksinya.
Batas sistem yang digunakan dalam analisis siklus hidup ini mencakup seluruh tahapan mulai dari ekstraksi bahan baku hingga pengelolaan limbah akhir. Analisis ini memperhitungkan penggunaan energi fosil, proses transportasi, serta potensi daur ulang botol plastik. Namun, penggunaan botol oleh konsumen diasumsikan hanya sekali pakai sesuai dengan praktik umum yang terjadi di masyarakat.
Pada tahap ekstraksi bahan baku, dampak lingkungan utama berasal dari eksploitasi minyak bumi dan gas alam. Proses ini tidak hanya menguras sumber daya alam yang tidak terbarukan, tetapi juga menghasilkan emisi karbon yang berkontribusi terhadap perubahan iklim. Selain itu, risiko pencemaran lingkungan dapat terjadi akibat kebocoran atau tumpahan minyak.
Tahap produksi botol plastik juga memberikan dampak lingkungan yang signifikan. Proses pengolahan minyak menjadi plastik PET membutuhkan energi yang besar dan menggunakan air dalam jumlah tinggi. Selain itu, proses produksi menghasilkan emisi gas rumah kaca dan limbah industri yang berpotensi mencemari lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik.
Distribusi botol air minum dari pabrik ke berbagai titik penjualan melibatkan penggunaan kendaraan bermotor berbahan bakar fosil. Aktivitas ini meningkatkan emisi karbon akibat transportasi jarak jauh, terutama ketika produk didistribusikan ke berbagai daerah.
Pada tahap konsumsi, botol plastik umumnya digunakan hanya sekali dan langsung dibuang. Rendahnya kesadaran konsumen untuk menggunakan kembali atau mengelola sampah dengan benar memperburuk permasalahan lingkungan. Banyak botol plastik yang akhirnya mencemari sungai, laut, dan tanah.
Tahap pengelolaan limbah menjadi tantangan terbesar dalam siklus hidup botol plastik. Meskipun botol PET dapat didaur ulang, tingkat daur ulang masih rendah. Sebagian besar limbah plastik berakhir di tempat pembuangan akhir atau mencemari lingkungan, membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai.
Sebagai refleksi awal, desain ulang produk dapat menjadi solusi untuk mengurangi dampak lingkungan. Produsen dapat mengurangi penggunaan plastik, meningkatkan kandungan bahan daur ulang, atau beralih ke kemasan guna ulang. Selain itu, penyediaan fasilitas air minum isi ulang dan edukasi konsumen untuk membawa botol minum sendiri dapat secara signifikan menekan konsumsi botol plastik sekali pakai.