MAHARDIKA DWI ATMAJA
A08
HASIL OBSERVASI PERILAKU KONSUMSI TIDAK BERKELANJUTAN
Tahap 1: Persiapan dan Pemilihan Lokasi
1. Lokasi Pengamatan
Lokasi pengamatan yang dipilih adalah Kantin Kampus.
Alasan pemilihan lokasi ini karena kantin merupakan tempat dengan aktivitas konsumsi yang tinggi, khususnya pada jam makan siang, sehingga memudahkan pengamatan berbagai perilaku konsumsi mahasiswa.
2. Alat Catat yang Digunakan
-
Buku catatan
-
Pulpen
-
Ponsel (hanya digunakan untuk mencatat waktu dan jenis produk, tanpa dokumentasi foto/video demi menjaga privasi)
3. Alokasi Waktu Pengamatan
Pengamatan dilakukan selama 45 menit, yaitu pada jam makan siang (12.00–12.45 WIB) saat aktivitas kantin sedang ramai.
Tahap 2: Proses Pengamatan dan Pencatatan
Observasi Aktif
Selama proses pengamatan, terlihat berbagai interaksi antara konsumen (mahasiswa) dengan penjual makanan dan minuman, baik untuk makan di tempat maupun take away. Fokus pengamatan diarahkan pada penggunaan kemasan, sisa makanan, serta kebiasaan konsumsi yang berpotensi tidak berkelanjutan.
Identifikasi 5 Contoh Konsumsi Tidak Berkelanjutan
| No | Perilaku Konsumsi Tidak Berkelanjutan | Keterangan |
|---|---|---|
| 1 | Penggunaan plastik sekali pakai | Makanan dan minuman dibungkus dengan plastik dan styrofoam |
| 2 | Pembelian minuman kemasan botol | Banyak mahasiswa membeli air minum botol meskipun tersedia galon |
| 3 | Sisa makanan berlebih | Beberapa konsumen tidak menghabiskan makanan |
| 4 | Penggunaan sedotan plastik | Minuman disajikan otomatis dengan sedotan plastik |
| 5 | Tidak membawa wadah sendiri | Konsumen jarang membawa tempat makan atau botol minum pribadi |
Tahap 3: Analisis dan Kesimpulan
1. Analisis Penyebab Perilaku yang Paling Sering Terjadi
Dari hasil pengamatan, tiga perilaku konsumsi tidak berkelanjutan yang paling sering ditemukan adalah:
-
Penggunaan plastik sekali pakai
Penyebab utamanya adalah kemudahan dan kebiasaan. Penjual menyediakan plastik karena murah dan praktis, sementara konsumen jarang menolak. -
Pembelian minuman kemasan botol
Hal ini disebabkan oleh kurangnya fasilitas alternatif, seperti dispenser air minum gratis, serta anggapan bahwa membeli minuman botol lebih praktis. -
Sisa makanan berlebih
Terjadi karena porsi makanan yang terlalu besar dan kebiasaan konsumen membeli tanpa mempertimbangkan kebutuhan.
2. Saran Solusi
Berikut tiga rekomendasi solusi praktis yang dapat diterapkan:
-
Penyediaan kemasan ramah lingkungan
Pengelola kantin dapat mulai mengganti plastik sekali pakai dengan kemasan biodegradable atau mendorong sistem wadah guna ulang. -
Penyediaan fasilitas air minum isi ulang
Dengan adanya galon atau dispenser gratis, konsumen dapat mengurangi pembelian minuman kemasan botol. -
Edukasi dan kampanye konsumsi berkelanjutan
Pemasangan poster atau imbauan di kantin untuk membawa wadah sendiri dan menghabiskan makanan dapat meningkatkan kesadaran konsumen.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil observasi di kantin kampus, masih banyak perilaku konsumsi yang tidak berkelanjutan, terutama penggunaan plastik sekali pakai, pembelian minuman kemasan, dan pemborosan makanan. Perilaku ini dipengaruhi oleh faktor kebiasaan, kemudahan, dan kurangnya fasilitas pendukung. Dengan kerja sama antara pengelola kantin dan konsumen, praktik konsumsi yang lebih berkelanjutan dapat diterapkan secara bertahap.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar